Make your own free website on Tripod.com

. . . p e n t - u p . . .

Thursday, July 29, 2004

Ini Hanya Skenario

Jujur, saya terkejut ketika beberapa waktu lalu mendengar teriakan-teriakan ala senior ospek di reality show besutan salah satu stasiun televisi. Saya pikir dua belas orang akademia angkatan ke-3 itu sedang mengikuti outbond training atau apalah, bersama panitia. Ternyata suara-suara keras yang menurut saya tidak pada tempatnya itu justru meluncur dari mulut para akademia angkatan sebelumnya.

Saya pernah dikerjai seperti itu. Berpegangan dengan rekan di depan dan di belakang saya dengan mata tertutup, untuk kemudian dikondisikan seperti sedang melewati berbagai rintangan. Harus lompat atau merunduk padahal tidak ada selokan, genangan air, atau cabang pohon yang menjuntai. Tetapi karena tidak ada nada-nada memerintah atau marah, saya jadi lebih yakin ketika itu saya sedang berada di pinggiran desa dekat hutan. Semuanya dijalani dengan semangat "lelucon".

Lain dengan apa yang saya saksikan di ajang popularitas tersebut. Ketika menyusuri jalan menuju lokasi karantina—bahkan setelah sampai dalam ruangan, para akademia baru seolah selalu melakukan kesalahan dan mesti “dibimbing” dengan hardikan yang menurut saya tidak wajar. Parahnya lagi, senior-senior mereka tampak begitu menikmati suasana itu. Bahkan tidak jarang setelah membentak, mereka menatap kamera sambil tersenyum atau menampakkan wajah lucu. Seakan-akan apa yang mereka lakukan menghibur.

Keluarga saya tertawa-tawa kecil menyaksikan adegan-adegan yang lebih mirip akademi militer itu. "Toh cuma skenario. Nggak beneran.", elak mereka. Memang, sesudah "skenario" itu berakhir, mereka pun saling berlomba memberi ucapan selamat sekaligus minta maaf.

Kita seringkali berlindung di balik kata "maaf", atau "pura-pura". Padahal, pernahkah para akademia senior atau panitia yang memperbolehkan kejutan itu mempertimbangkan perasaan atau mencoba memosisikan diri sebagai akademia baru? Apakah dua belas akademia yang menurut saya tertindas itu memang rela diperlakukan demikian atas nama hiburan? Mungkin.

Paling tidak ini mengisyaratkan dua hal. Pertama, dengan kekuasaan, apalagi jika didukung jumlah massa, akan cenderung membuat kita mudah memperlakukan orang lain semena-mena, terlepas dari ada atau tidaknya skenario. Saya melihat dengan jelas betapa merasa berkuasanya para senior di acara tersebut ketika mereka dengan leluasa mempermainkan "junior-junior" mereka. Betul-betul lain dengan mimik muka mereka ketika mendapat teguran dari pengajar atau panitia saat masa karantina dulu. Saya jadi berpikir, boleh jadi ada sisi bawah sadar yang membuat mereka ingin "membalas dendam" atas perlakuan tidak enak yang pernah mereka terima. Sebuah euforia kebebasan.

Ke dua, yang harus lebih dalam dipertimbangkan, adalah dampaknya bagi siapapun yang kebetulan melihat tayangan tersebut. Siswa-siswi kelas 2 atau 3 SMP/SMU akan terinspirasi untuk memarahi adik-adik kelasnya saat masa orientasi siswa. Para mahasiswa senior pun bisa jadi makin merasa tindakan bentak-membentak itu sudah sepantasnya dilakukan. Toh cuma skenario.

Skenario yang dilakukan atas dasar melatih mental atau kekompakan. Dua alasan yang menurut saya sama tak masuk akalnya. Kondisi mental yang tangguh tidak bisa dilatih hanya dalam tempo dua-tiga hari. Buat saya, tempaan yang lebih mengena bukan pada masa ospek, tetapi justru selama kuliah. Pun, kekompakan lahir dengan sendirinya selama karantina—bukan lewat penindasan pura-pura.

Baguslah jika perlakuan macam itu tetap dipandang sebagai skenario. Tetapi jangan lupa, kadangkala kita menerjemahkan skenario ini pada kehidupan nyata. Diakui atau tidak, hal tersebut membawa pengaruh pada kebiasan "gencet-menggencet"—yang tidak jarang dilakukan senior pada juniornya yang dianggap menyebalkan, belagu, atau tidak penurut.
Bila stressing masih tetap perlu, tak bisakah dicari bentuk lain yang lebih intelek? Kritikan pedas juri terhadap kemampuan teknis menyanyi, menari, atau performa panggung lainnya, misalnya. Namun pada akhirnya, format perploncoan di salah satu kontes popularitas tersebut memang menghibur. Hiburan yang mengerikan.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home