Make your own free website on Tripod.com

. . . p e n t - u p . . .

Saturday, July 31, 2004

Kalau Saya Jadi Guru

Saya akan bicara kebebasan. Menantang anak-anak didik saya untuk berbeda pendapat dengan buku pelajaran. Mereka bebas membuat tema tulisan. Bebas memilih objek gambar. Bebas menentukan lagu untuk dinyanyikan. Bebas minum dan makan permen selama belajar. Bebas untuk lima menit istirahat pendek setiap 60 menit jam pelajaran. Bebas untuk keluar dari kelas jika materi ajaran saya tidak bermanfaat.

Saya akan bicara tanggung jawab. Karenanya, saya harus membaca dan memahami lebih banyak daripada yang saya uraikan. Lebih dari sekadar mengerti karena saya harus membantu orang lain memahami. Bahwa apapun yang dilakukan adalah pilihan yang punya konsekuensi. Bahwa tidak bisa lagi menyalahkan sekolah, kurikulum, orang tua, jika gagal atau menemui kesulitan. Bahwa lebih baik mandiri dengan hasil sekadarnya daripada mengandalkan salinan PR atau contekan jawaban.

Saya akan bicara keadilan. Memberi kesempatan sama pada tiap siswa untuk berpendapat, menjawab, atau membantah. Tidak menatap baris depan atau baris belakang saja. Tidak hanya bertanya pada beberapa orang yang sudah saya hafal namanya. Tidak hanya menyebut-nyebut siswa yang paling cerdas. Punya arsip nilai yang lengkap dan transparan yang siap ditunjukkan—dan dipertanggungjawabkan.

Saya akan bicara kesejajaran. Bahwa dengan berada di depan kelas bukan berarti saya yang paling tahu atau paling bisa. Bahwa setiap sekolah adalah sama; tidak penting di mana, tetapi bagaimana mereka bersekolah.

Saya akan bicara tentang menghargai. Tidak ada cemoohan saat siswa tidak bisa atau salah menjawab. Menunggu dengan sabar ketika ada yang bicara terbata-bata. Menyebut setiap siswa dengan namanya. Menulis hal yang menarik tentang setiap karangan sebelum saya membagikannya kembali.

Saya akan bicara motivasi, karena pendidikan bukanlah pengajaran apalagi pelatihan. Memberi keyakinan bahwa setiap orang diberi Tuhan potensi yang sebanding.

Saya akan bicara tentang menyukai. Kerelaan untuk belajar dan berpikir tanpa paksaan. Hingga anak-anak didik saya tidak sabar menunggu saat kembali ke sekolah setelah sampai di rumah. Dan karenanya saya perlu permainan setiap hari. Senyum, tawa, dan juga variasi alat bantu ketika mengajar—tidak melulu dengan ceramah atau OHP.

Saya akan bicara pemahaman, bukan hafalan. Susunan kalimat sendiri dengan kekurangan di sana-sini adalah lebih indah daripada kata-kata rumit yang tak dimengerti. Hingga anak-anak didik saya akan lebih senang essai daripada pilihan ganda. Atau ujian lisan daripada tulisan. Tak sebatas teori tapi tahu gunanya ketika mereka tak lagi di bangku sekolah.

Saya akan bicara prioritas. Karena tidak mungkin semua materi dapat dipahami penuh dengan begitu banyaknya bidang studi. Mendorong mereka yang mampu untuk mengikuti komunitas belajar yang tidak cuma menerapkan rumus instan.

Saya akan bicara tentang membantu. Mungkin telepon rumah saya sering berdering karena banyak siswa yang belum paham proses respirasi. Mungkin saya harus rajin memeriksa kotak e-mail untuk berdiskusi lebih dalam dengan anak didik saya tentang revolusi industri. Mungkin rumah saya kerap dikunjungi mereka yang tidak bisa memecahkan soal logaritma. Mungkin telepon selular saya penuh pesan SMS, menanyakan pola Past Perfect Continuous Tense. Dan mungkin makan siang saya di ruang guru selalu terganggu karena mesti menjelaskan kembali rumus gerak lurus berubah beraturan. Tetapi saya senang bisa membantu.

Dan saya harus punya pekerjaan lain yang bisa menopang kehidupan saya karena negara tempat saya tinggal belum bisa menghargai profesi guru sebagaimana mestinya. Saya tidak ingin jadi kaya raya. Saya hanya ingin menyiapkan bahan ajaran tanpa perut melilit. Ingin rutin berlangganan minimal satu surat kabar lokal agar tak ketinggalan berita. Ingin membeli paling tidak satu buku tiap bulan supaya selalu punya hal baru untuk dibagi dengan anak-anak didik saya.

Itu kalau saya jadi guru—yang mungkin seperti banyak orang lain, menjadi alternatif terakhir bila tak juga mendapat pekerjaan.

2 Comments:

  • alternatif terakhir kalo ga juga dapet kerjaan? kok gitu? saya ga setuju. banyak orang yang tidak menjadikan pekerjaan sebagai guru or pendidik sebagai alternatif terakhir. banyak yang justru pengen banget jadi guru. bukan karena mereka ga dapet kerjaan terus, tapi karena mereka tau gimana pentingnya keberadaan seorang guru.saya jadi inget waktu SMA dulu, guru biologi saya pernah bilang, kalo orang menjadikan UPI sebagai alternatif terakhir (baca: menjadi guru - karena kebanyakan guru lulusan dari sana), jangan heran kalo rakyat Indonesia jadi bodo karena orang-orang pinternya gada yang mau 'cuma' jadi guru.

    By Anonymous, at 11:03 PM  

  • Hello anonymous. Thanks for dropping by and posting a comment here. Yes, I am fully aware that many people would argue over that last sentence. However, I did say "mungkin", didn't I?
    I believe I don't blindly claim that being a teacher is everyone's least favorite occupation. It's just that...take a look at the fact. I am sure there are a lot of brainy people here in Indonesia...but some (or perhaps many) parts of the country is undergoing a lack of teachers.
    And talking about stereotypes, you did that too, by implicitly saying that UPI graduates are not "smart" people. :)
    Well, looking forward to another discussion.

    -live well, laugh often, love much-

    By Avee, at 12:20 AM  

Post a Comment

<< Home