Make your own free website on Tripod.com
Send As SMS

. . . p e n t - u p . . .

Saturday, November 27, 2004

Haruskah Bekerja Sesuai Bidang Ilmu?

(Published on Pikiran Rakyat, January 3, 2005)

Sebagian masyarakat cenderung menganggap bahwa pekerjaan yang dilakoni seseorang idealnya sesuai dengan latar belakang keilmuannya. Lebih afdol, begitu kata mereka. Pendapat ini—meskipun tidak salah—agak tradisional, kalau tidak bisa dikatakan ketinggalan jaman. Bekerja pada bidang lain yang berbeda dari disiplin ilmu yang dituntut di bangku sekolah atau kuliah bahkan memiliki beberapa manfaat.

Pertama, pengalaman dan wawasan seseorang akan menjadi lebih luas hingga dapat memandang suatu masalah tidak hanya dari satu sisi saja. Ambillah contoh profesi diplomat di Departemen Luar Negeri yang “idealnya” diisi oleh sarjana hubungan internasional. Dengan berkarir pada bidang tersebut, seorang sarjana ekonomi yang gencar mencetuskan kesejahteraan lewat gagasan-gagasan ekonomi, atau seorang sarjana sastra yang sangat yakin akan peran seni dalam meningkatkan posisi tawar suatu negara, akan “dipaksa” untuk menelaah juga aspek-aspek politis dan historis dunia. Mengisi lahan kerja yang berlainan dengan bidang ilmu paling tidak akan mencegah seseorang menjadi “katak dalam tempurung”.

Ke dua, seiring dengan bertambahnya pengetahuan baru, seorang karyawan yang berjiwa wirausaha akan menjadi lebih jeli melihat peluang-peluang yang ada. Sebelum bekerja sebagai konsultan keuangan pada sebuah perusahaan asuransi, seorang lulusan jurusan farmasi mungkin tidak menyadari bahwa selain untuk tujuan konsumsi, sebagian masyarakat menggunakan kekayaannya untuk investasi. Peluang tersebut ia manfaatkan pula untuk merangkap menjadi pialang saham, misalnya. Akibatnya, tak cuma ilmunya yang bertambah.

Ke tiga, akan timbul kompetisi yang (semoga) sehat di antara para pelamar kerja. Ketika seorang sarjana teknik pertanian diterima menjadi Training Officer sebuah perusahaan garmen, kemungkinan besar kompetensinya di bidang pelatihan lebih tinggi daripada pesaing-pesaing lain dari bidang manajemen, psikologi, atau komunikasi. Perusahaan yang cerdas menyeleksi calon karyawannya berdasarkan pengalaman dan keterampilan, bukan latar belakang pendidikan semata. Ini berarti, seorang sarjana teknik informatika yang ingin bekerja sebagai konsultan IT tak cukup hanya mengandalkan gelar, tetapi harus benar-benar menguasai bidang ilmunya agar tidak dikalahkan oleh sarjana teknik kimia yang kebetulan lebih luwes menguasai berbagai bahasa pemrograman.

Di samping itu, beberapa profesi justru membutuhkan sarjana-sarjana dari berbagai disiplin ilmu untuk dididik sesuai kebutuhan profesi tersebut. Contoh yang paling mudah ditemukan adalah pekerjaan sebagai reporter atau jurnalis media massa cetak. Dengan beragamnya rubrik yang ada, akan relatif lebih efisien untuk melatih sarjana desain interior tentang bagaimana membuat feature, daripada melatih sarjana jurnalistik tentang seluk-beluk gaya penataan ruangan.

Namun demikian, menggeluti bidang yang berbeda dengan apa yang dipelajari semasa kuliah memang bukan hal mudah. Bisa dibayangkan banyaknya hal baru yang mesti dipahami seorang lulusan editing yang baru saja direkrut menjadi sales representative oleh sebuah perusahaan minuman kesehatan. Di sinilah peran pendidikan dan pelatihan bagi pegawai baru sangat dibutuhkan, baik pelatihan intensif maupun orientasi singkat tentang perusahaan.

Mereka yang berprinsip bahwa pekerjaan harus sesuai dengan latar belakang keilmuan mungkin merasa keberatan jika harus mempelajari sesuatu yang baru dari awal. Padahal, tidak ada yang bisa memprediksi masa depan. Seiring dengan restrukturisasi atau rasionalisasi jumlah pegawai di sebuah perusahaan penerbangan, misalnya, seorang sarjana teknik fisika yang awalnya bekerja sesuai bidangnya terpaksa harus mengenal metode-metode pembukuan karena dialihtugaskan menjadi pengawas keuangan.

Memaksakan agar pekerjaan kita sesuai dengan latar belakang pendidikan bukan hanya hal yang cukup sulit, tetapi dapat pula mematikan kreativitas. Dalam kewirausahaan, contohnya. Tak semua yang kita pelajari di sekolah atau perguruan tinggi harus bisa “dijual”. Apabila setiap orang mutlak mesti berbisnis sesuai bidang ilmunya, alangkah sesaknya ruang gerak para sarjana untuk menjadi pengusaha karena lahan usaha dibatasi sesuai bidang ilmu mereka. Ketika ingin berwirausaha, seorang pensiunan jenderal tidak lantas harus berjualan senjata atau membuka kursus bela diri, bukan?

Ilmu yang telah dipelajari memang idealnya diamalkan, meski tidak selalu dalam bentuk profesi. Mengajar bisa menjadi salah satu alternatif agar ilmu tersebut tidak sekadar menguap. Meski teori-teori yang kita pelajari di bangku sekolah atau kuliah hanya tersimpan rapi di lemari, toh tidak ada yang sia-sia dari bertambahnya pengetahuan dan, mungkin, pengalaman hidup kita.

Kini sudah bukan saatnya lagi membuat kotak-kotak yang tak perlu yang hanya mempersempit pandangan. Menjadi seorang profesional tak harus melulu pada satu bidang ilmu. Selain ahli obat-obatan, Ibnu Sina (Avicenna) juga merenungi filsafat dan matematika. Carl I. Hovland tidak hanya menyentuh psikologi, tetapi berhasil menegakkan salah satu pilar besar ilmu komunikasi.

Merambah dunia yang berbeda dengan bidang ilmu boleh jadi malah menguntungkan. Tengoklah Mooryati Soedibyo—pengusaha jamu dan kosmetika tradisional—yang ternyata adalah alumni jurusan Bahasa Inggris. Atau Cyrillia Arymbi, seorang asisten apoteker yang kini sukses dengan Lembaga Pendidikan dan Latihan Ariyanti. Kalau Theresia Juliaty bekerja sebagai sekretaris sesuai latar belakang pendidikannya, kota Bandung mungkin akan kehilangan “Prima Rasa”, salah satu toko kue yang terkenal dengan browniesnya. Kalau seorang Michelle Yeoh hanya berprofesi sebagai pengacara, Malaysia mungkin tak dapat membanggakannya sebagai James Bond lady. Dan kalau 25 sarjana arsitektur penggagas bisnis kaus “Dagadu” memilih untuk mendesain bangunan, Yogya mungkin akan kekurangan salah satu daya tariknya.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home