Make your own free website on Tripod.com

. . . p e n t - u p . . .

Wednesday, November 24, 2004

Susahnya Jadi Wirausahawan

Sekira tahun 1980-an, anak-anak yang ditanya ingin jadi apa mereka setelah besar nanti kemungkinan besar akan menjawab: dokter, atau insinyur. Kenyataannya, tidak semua anak yang ingin menjadi dokter atau insinyur benar-benar tumbuh seperti angan-angan mereka dulu. Kini, setelah dua dekade berselang, boleh jadi tidak sedikit generasi muda yang bercita-cita menjadi pengusaha. Dan demikian pula, mereka yang berkata ingin jadi pengusaha hampir bisa dipastikan akan mengalami berbagai hambatan (nonteknis) dalam mewujudkan impian.

Padahal, menurut seorang pakar entrepreneurship dari Amerika Serikat, David McClelland, suatu negara akan mencapai tingkat kemakmuran bila jumlah wirausahawan di negara tersebut mencapai minimal 2% dari total seluruh penduduknya. Ini berarti—jika apa yang dikatakan McClelland itu benar, dengan sekira 217 juta penduduk, Indonesia paling tidak memerlukan 4 juta wirausahawan—tak hanya yang berskala besar, tentunya—untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Kondisi tersebut boleh dikatakan masih jauh dari kenyataan. Saat ini, walaupun banyak perubahan terjadi dan kesadaran berwirausaha telah begitu digembar-gemborkan, memutuskan untuk berwirausaha tetap saja bukan hal mudah. Terutama mengingat sulitnya mengubah pandangan tradisional masyarakat Indonesia yang sudah kadung ingin hidup pada “zona aman”. Berpikir tentang memulai usaha saja sudah cukup menakutkan bagi sebagian orang.

Setiap permulaan adalah sulit, meskipun semua perjalanan besar pasti dimulai dengan langkah-langkah kecil. Pada masa-masa awal karirnya, seorang wirausahawan tidak mungkin mendapatkan keuntungan yang besar. Terkadang malah ia mesti menghabiskan isi koceknya atau hidup susah sebelum bisa meraih kesuksesan. Sementara kebanyakan pegawai baru hampir tidak bisa dikatakan merugi; setelah satu bulan bekerja pun upah atau gaji sudah ada di tangan.

Lalu, menjadi seorang wirausahawan berarti hanya mendapatkan sebanyak apa yang ia usahakan, karena ia bekerja untuk dirinya sendiri. Tidak ada istilah “libur” apalagi cuti, selama ia ingin bisnisnya tetap berjalan. Wirausahawan yang bekerja 10 jam per hari mungkin hanya menghasilkan separuh daripada yang membanting tulang 20 jam. Lain halnya dengan pegawai-pegawai yang bekerja untuk orang lain. Kadangkala pegawai yang berada di kantor 6-8 jam setiap hari memiliki pendapatan yang sama dengan mereka yang memiliki jam kerja 12 jam sehari.

Seorang pegawai umumnya tidak perlu bersusah-payah memikirkan kelangsungan perusahaan atau tempatnya bekerja. Yang penting ia melaksanakan tugas-tugas dalam deskripsi kerjanya dengan baik agar bisa mendapatkan promosi jabatan. Seorang wirausahawan tentu tidak demikian. Selain harus terus berpikir cerdas dan kreatif untuk mendapatkan keuntungan, ia juga mesti mempertimbangkan kesejahteraan karyawannya.

Melihat konsekuensi-konsekuensi yang dihadapi wirausahawan, pantas saja kita agak ragu untuk menjadi entrepreneur. Mungkin kita tidak berani mengambil risiko, selalu ingin hasil instan tanpa pengorbanan, atau malah terlalu malas untuk bekerja keras.

Latar belakang keluarga pun kerap menjadi kendala bagi mereka yang ingin berwirausaha. Kebanyakan orangtua—yang bukan pengusaha—akan mengerutkan kening bila anaknya memutuskan untuk menjadi wirausahawan. Mereka mungkin lebih menyukai status pekerjaan yang lebih “mapan” atau jalan hidup yang relatif aman: menjadi pegawai, mendapat berbagai kenaikan pangkat atau jabatan sampai posisi tertinggi, kemudian pensiun dengan uang jaminan hari tua.

Sebetulnya tidak ada yang salah dengan pandangan seperti itu. Toh tidak semua pegawai tidak bekerja keras—bahkan mungkin ada yang memeras keringat jauh lebih payah daripada seorang wirausahawan. Tetapi jika semua orang hanya ingin menjadi employee dan bekerja di perusahaan orang lain, siapa yang akan menjadi employer? Yakinkah kita, dengan populasi manusia yang selalu bertambah dari hari ke hari, jumlah perusahaan atau instansi yang ada mampu menyerap semua tenaga kerja?

Menjadi pegawai tidaklah lebih buruk daripada menjadi wirausahawan, atau sebaliknya. Lebih baik jika keduanya menjadi bagian dalam upaya kita untuk mandiri. Intinya adalah selalu siap menghadapi perubahan dan kemungkinan terburuk dengan tidak menggantungkan masa depan hanya pada satu bidang. Atau seperti kata peribahasa, “don’t put all of your eggs in one basket”.
Sama seperti seorang wirausahawan yang selalu dihantui kemungkinan rugi atau bangkrut, seorang pegawai pun sebenarnya berisiko diberhentikan dari pekerjaannya—apapun alasannya. Dengan selalu membuka hati dan pikiran untuk mencari kemungkinan-kemungkinan baru untuk berwirausaha, jumlah aksi-aksi demo karyawan yang di-PHK mungkin akan berkurang. Karenanya, tidak kunjung mendapat pekerjaan tak perlu membuat seseorang berkecil hati atau depresi. Pun, adalah lebih bijak jika seorang pegawai yang tengah merasa aman dengan karirnya mulai berpikir untuk memulai usaha mandiri. Toh selain mendapat laba pribadi, menemukan lahan bisnis juga berarti menyebar manfaat pada masyarakat yang lebih luas melalui berputarnya roda ekonomi.

Dalam situasi finansial yang masih serba merangkak ini, tak perlu lagi mencari kambing hitam dengan menyalahkan pengusaha yang memecat kita, pemerintah yang dianggap tak becus menangani jumlah pengangguran, atau para sarjana yang tidak jeli membuka lapangan kerja baru. Setiap perbaikan idealnya dimulai dari diri sendiri. Dengan mulai menjamurnya berbagai buku, pelatihan, dan seminar tentang kewirausahaan, sudah saatnya kita belajar menjemput bola, bukan hanya menanti bola operan yang entah kapan datangnya.

[Iya, ini juga cubitan kecil buat diri sendiri.]

0 Comments:

Post a Comment

<< Home