Make your own free website on Tripod.com

. . . p e n t - u p . . .

Wednesday, December 08, 2004

Cinta dan Poligami

Lalu bagaimana dengan alasan “cinta” hingga poligami layaknya buah simalakama?

Saya teringat sabda Rasulullah SAW yang sering menjadi kata-kata bijak yang anonim. Bunyinya kurang lebih seperti ini: “Jika engkau mencintai sesuatu, janganlah berlebihan karena sesuatu yang engkau cintai boleh jadi suatu saat akan menjadi sesuatu yang engkau benci. Jika engkau membenci sesuatu, janganlah pula berlebihan karena sesuatu yang engkau benci boleh jadi suatu saat akan menjadi sesuatu yang engkau cintai.”

Dulu, saya sempat mengernyitkan kening saat guru tata boga menasihati kelas saya yang semuanya perempuan—dan sedang puber, “Cinta sama laki-laki jangan pernah seratus persen.”

Sekarang saya paham bahwa yang ia maksud adalah mencintai manusia tidak pernah (dan lebih baik tidak menjadi) cinta sejati 24 karat. Cinta yang ditujukan pada manusia suatu saat akan berakhir dengan kekecewaan karena cepat atau lambat, setiap perjumpaan akan diikuti dengan perpisahan, bagaimanapun caranya.

Ini tidak berarti komitmen dan kesetiaan menjadi hal yang sepele. Intinya kembali pada mental kita menerima kenyataan bahwa semua yang terjadi sudah digariskan dan tugas kita hanya mengusahakan yang terbaik untuk kemudian menerimanya dengan doa dan keluasan hati. Tidak perlu menjadi terlalu gembira atau terlalu sedih karena hidup selalu bergulir, melaju, tidak pernah berhenti.

Jika kita cukup kuat dan ikhlas untuk menerima poligami, kenapa tidak? Tetapi jika kita merasa lebih baik meninggalkan suami, jangan pernah menoleh ke belakang dan mengutuk. Kita masih punya hidup yang jauh lebih berharga.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home