Make your own free website on Tripod.com

. . . p e n t - u p . . .

Wednesday, December 08, 2004

Islam dan Poligami

Istri Gus Dur, Hj. Sinta Nuriyah, membuka posko antipoligami selama Muktamar NU 2004 lalu. Menurut Harian Pikiran Rakyat edisi Selasa, 30 November, ia terang-terangan menyatakan poligami tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Entah apakah ada penjelasannya yang tidak dikutip PR atau ia memang tidak sempat menjelaskan lebih lanjut. Namun sungguh menyedihkan kalimat itu keluar dari mulut seorang istri ulama yang notabene memahami Islam. Kalau apa yang dilansir PR itu akurat, ia tidak hanya menentang poligami, tetapi juga Rasulullah SAW.

Mestinya sebagai orang yang "berpendidikan", ia menjelaskan bentuk poligami seperti apa yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dan jangan katakan poligami “masa kini”, sebab siapa tahu masih ada poligami yang betul-betul sejalan dengan kaidah-kaidah Islam.

Sebetulnya, dalam keadaan normal, eksistensi poligami tidak perlu lagi diperdebatkan. Toh tuntunannya sudah ada dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi (yang shahih, tentunya). Menggugat poligami menurut saya sama saja dengan menggugat kehalalan nasi dan sayur kangkung, sekali lagi, dalam keadaan normal.

Feminisme tampaknya menjadi akar argumen-argumen yang menentang poligami. Poligami, seperti apa yang diungkapkan Ibu Sinta Nuriyah, adalah pembodohan terhadap perempuan. Diskriminasi. Pembudakan. Kekerasan. Ketidakadilan. Tidak berperikemanusiaan (atau berperikeperempuanan?). Dan saya yakin kaum perempuan masih bisa menulis lebih banyak alasan lagi.

Syarat dan konsekuensi poligami memang berat. Boleh jadi cuma satu di antara seratus laki-laki yang mampu bersikap adil secara kualitas dan kuantitas. Boleh jadi pula cuma satu di antara seratus perempuan yang merelakan suaminya menikah lagi. Berarti mungkin cuma satu di antara seratus pernikahan poligami yang berjalan mulus.

Saya tidak berniat mengadakan riset. Tentang berapa persen pernikahan poligami yang Islami dan berapa yang tidak. Yang pasti, setiap hal pasti memiliki dua sisi mata uang. Seperti tidak semua penganut agama Islam ber-Islam dengan benar, tidak semua poligami dilakukan dengan benar.

Tetapi apakah kasus-kasus negatif yang ada bisa menghalalkan kita untuk menentang poligami (yang Islami tentunya)? Seharusnya para perempuan Islam berhenti menggeneralisasikan situasi. Terlalu aneh rasanya memburu tikus-tikus rumah dengan AK-47.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home