Make your own free website on Tripod.com

. . . p e n t - u p . . .

Wednesday, December 08, 2004

Kekerasan dan Poligami

Kembali, saya bukan orang yang gemar menggeneralisasi. Pada kondisi-kondisi tertentu, boleh jadi kita harus memperjuangkan hak perempuan untuk tidak diduakan. Ketika rencana poligami sudah menjurus pada tindak kriminalitas (mengancam, menyakiti, meneror)—misalnya suami melakukan segala cara agar ia bisa menikah lagi, sudah saatnya pihak lain campur tangan.

Sebetulnya tidak ada hal yang terlalu sulit untuk dilakukan selama kita secara sadar menginginkan dan memperjuangkannya. Kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga seringkali menjadi berlarut-larut karena rasa takut sang istri. Takut dihabisi suami (padahal kata William Wallace, pejuang Skotlandia di film Braveheart, lebih baik mati dalam keadaan bebas daripada hidup terkekang dan terbebani). Takut tidak bisa bertemu anak-anaknya lagi. Takut mengecewakan keluarga. Takut diancam. Takut menyusahkan orang lain. Dan silakan perpanjang daftar ini.

Anak memang seringkali menjadi korban ketika orangtua bercerai. Dan alasan ini pula yang kerap membuat istri atau suami menghindari perceraian. Namun pertumbuhan psikologis anak dengan orangtua utuh yang seringkali cekcok nyatanya tak lebih baik dari kondisi anak dengan orangtua tunggal. Yang penting bukan lengkap tidaknya orangtua, tetapi kondisi dan situasi lingkungan yang nyaman dan kondusif di sekitar anak.

Hak pengasuhan anak seringkali diberikan pada pihak yang dianggap mampu membesarkan si anak secara finansial dan mental. Namun ketika seorang suami total memisahkan anak-anaknya dari istrinya setelah bercerai, perlu ditempuh upaya hukum untuk memperjuangkannya kembali. LSM-LSM keperempuanan pasti akan membantu. Meski perlu dipertanyakan kembali pada lubuk hati yang terdalam, apakah keinginan bertemu tersebut tulus didasari kerinduan dan kasih sayang, atau hanya sekadar ego dalam bentuk lain? Rasa terkalahkan ketika perempuan lain tak hanya merebut suami tetapi sanggup mengambil hati anak-anaknya?

Yang penting pada kasus kekerasan dalam rumah tangga adalah keberanian istri untuk berpisah dari suaminya. Keberanian untuk meninggalkan anggapan kuno yang menyebut meski diinjak-injak hingga mati pun istri harus mengabdi pada suami.

Hanya karena laki-laki dianggap sebagai pemimpin keluarga, ia tidak lantas bebas memperlakukan atau mengatur tiap denyut kehidupan di rumah tangganya. Kebebasan malah sangat terkait dengan tanggung jawab. Pelajar sekolah menengah memang tidak sebebas mahasiswa, tetapi tanggung jawab seorang mahasiswa pada keluarga, masyarakat, dan dirinya sendiri, justru jauh lebih besar dibanding tanggung jawab seorang pelajar.

Demikian pula, ikatan pernikahan tidak mungkin menyatukan dua jiwa karena nyatanya istri dan suami tetaplah dua individu yang berbeda, yang membutuhkan ruang untuk mengatur kehidupan masing-masing dan menjadi diri sendiri. Ikrar saat ijab-kabul mungkin lebih baik tidak dimaknai sebagai simbol untuk menjadi “satu”, tetapi sebagai komitmen untuk selalu mencari irisan dari setiap perbedaan.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home