Make your own free website on Tripod.com

. . . p e n t - u p . . .

Wednesday, December 08, 2004

Perempuan dan Poligami

Toh, poligami tetap harus sepengetahuan dan seijin istri sebelumnya. Seorang istri yang tidak menyetujui rencana poligami suaminya sah-sah saja menggugat cerai. Masalahnya, kaum perempuan sendiri mesti jujur bahwa mereka menghindari perceraian dengan dalih masa depan diri dan anak-anaknya. Bukan masa depan mental, tapi finansial.

Selain ketergantungan secara materi, kaum perempuan juga bergantung secara psikologis pada gengsi yang mereka bangun sendiri. Memberi tempat bagi perempuan lain di hati suaminya (dengan bercerai atau berpoligami) dianggap suatu kekalahan yang sangat memalukan. Diakui atau tidak, kita lebih gelisah memikirkan gunjingan orang daripada babak kehidupan kita selanjutnya (dengan atau tanpa suami).

Apa yang dikatakan Sinta Nuriyah, bahwa poligami adalah pembodohan terhadap perempuan, sebetulnya lebih banyak disebabkan karena perempuan membodohi, juga memperbudak, diri sendiri. Justru perempuanlah yang harus lebih banyak menolong dirinya ketika posisi tawarnya lebih rendah dibanding laki-laki.

Kita mesti mengakui, feminisme pun masih menggunakan standar ganda. Konon kaum feminis tidak ingin ada diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Nyatanya, kategorisasi mana pekerjaan perempuan serta mana pekerjaan laki-laki tetap ada, bahkan kaum perempuan sendiri yang memilihnya. Jika seorang istri ingin diberi kesempatan untuk mengejar karir di luar rumah, ia pun harus menghormati keinginan suaminya yang ingin rehat sebentar dari tugas mereparasi peralatan elektronik atau memperbaiki mobil. Dan dalam seminar-seminar berbau feminisme di berbagai perguruan tinggi, kita bisa menebak panitia perempuan pasti keberatan jika diminta memindah-mindahkan meja, kursi, atau membopong galon air mineral.

Yang perlu dilakukan sekarang bukanlah melarang para laki-laki berpoligami, tetapi memberdayakan kaum perempuan agar tidak terlalu bergantung baik secara psikologis, fisik, maupun finansial pada laki-laki (atau suami).

Pemberdayaan bukan dengan meminta kaum perempuan berkata “tidak” pada poligami, tetapi dengan meminta mereka berpikir lebih kritis, objektif, dan rasional dalam mengambil keputusan. Bukan dengan selalu berlari pada LSM untuk meminta perlindungan, tetapi dengan mendidik mereka agar dapat berpikir dan bertindak mandiri. Bukan meminta laki-laki bersikap lebih adil pada perempuan, tetapi menempatkan kembali keadilan sesuai porsinya.

A nice guy is either a gay, or married.

Jika kini kaum perempuan merasa kesulitan mencari “pria baik-baik” untuk menjadi tempat bergantung, apa gunanya menghujat kaum laki-laki dan menuntut mereka menghormati perempuan? Tunjukkan saja perempuan tak mesti dilindungi lawan jenisnya.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home