Make your own free website on Tripod.com

. . . p e n t - u p . . .

Wednesday, January 05, 2005

Sense of Service

Pagi itu saya dan ayah harus mengantar pembantu pulang kampung karena ibunya meninggal dunia. Padahal sebelum berangkat ke kantor, saya sudah berencana singgah dulu di redaksi sebuah media cetak untuk mengambil honor tulisan.

Dengan asumsi jam kerja dimulai pukul 8 dan proses pengambilan honor hanya butuh sekira 10 menit (seperti yang biasa saya alami), saya tiba di kantor redaksi tersebut 30 menit sebelum pukul 9. Mbak resepsionis meminta saya menunggu, “Sebentar,” katanya.

Lima menit kemudian mbak resepsionis itu hanya melayani gurauan beberapa karyawan yang pada jam itu mungkin belum punya kesibukan lain.

Sepuluh menit lewat. Saya terheran-heran kenapa mbak resepsionis itu tidak memberi kabar tentang honor tulisan saya.

Lima belas menit. Dan hampir dua puluh menit.

Ayah saya menyusul dari tempat parkir. Ia hanya bertanya “Masih lama?”, dan saya langsung sadar bahwa pembantu saya harus tiba di Cicaheum secepatnya untuk menghadiri pemakaman ibunya.

Saya berdiri dan bertanya pada mbak resepsionis berapa lama lagi saya mesti menunggu. Menyedihkan. Ia hanya pasang tampang bingung sambil menjawab bahwa uangnya harus dikeluarkan dulu. “Lima? Atau sepuluh menit lagi?” saya butuh jawaban.

“Mungkin jam 9.” kalimat yang seharusnya bisa diucapkan dua puluh menit sebelumnya itu akhirnya muncul juga.

Saya kesal.

Bukan karena beberapa ratus ribu yang tak saya peroleh hari itu. Bukan karena brankas uang canggih yang hanya bisa dibuka dengan dentang jam sembilan kali. Atau karena 20 menit saya menunggu.

Saya kesal karena membuat ayah dan pembantu saya menunggu. Karena menghambat pembantu saya sampai di Cicaheum yang pasti macet itu. Dan karena mbak resepsionis itu tak punya sense of service.

Apalah sulitnya memberitahu berapa lama proses pengambilan honor tulisan (bukan hanya dengan kata “sebentar” yang entah apa artinya). Toh saya bukan orang pertama yang datang dengan maksud tersebut. Atau begitu beratkah menginformasikan beberapa saat setelah saya menunggu bahwa uang saya baru bisa diambil jam 9-an?

Saya tidak keberatan untuk datang lagi hari berikutnya, selama saya tidak membuang waktu sampai 20 menit. Memang bukan waktu yang lama, tapi pernahkah mbak resepsionis itu berpikir saya mungkin sedang tergesa-gesa? (Atau paling tidak menanyakan apakah saya sedang diburu waktu?)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home