Make your own free website on Tripod.com

. . . p e n t - u p . . .

Saturday, January 01, 2005

Too Angry to Write in English

Lagipula ini unek-unek buat bangsa sendiri, cukup kita (or anyone else understands Bahasa Indonesia) yang baca.

Salah satu penyebab keterpurukan Indonesia di segala bidang—selain korupsi—(sebetulnya dari dulu) sampai sekarang, bukan cuma minimnya pendidikan dan kurangnya penggerak roda ekonomi, tapi karena mental kita sendiri (I’m not going to bring up the old fact that we’ve been under colonialism for how many years...it’s just a way of blaming others for things we should’ve been able to fix ourselves).

Baru kemarin, saya sadar kalau sebagian penduduk Indonesia ternyata MALAS. Malas yang sama sekali nggak beralasan.

Hari Jumat sore, sekitar jam setengah enam lewat sedikit.

Seperti biasa, pulang kantor saya menumpang (nggak juga sih, saya kan bayar) angkot Cimindi-Sederhana untuk sampai ke rumah. Lewat jalan Terusan Pasteur yang macetnya amit-amit setiap weekend (thanks to local tourists who seem to think Bandung is still cozy for holidays).

Sebelah saya keluarga dengan dua anak, perempuan sekitar 15 tahun dan laki-laki yang menurut saya masih SD atau awal SMP, yang sepanjang jalan kelihatan ceria dan sibuk mengobrol. Tujuan mereka KFC Bandung Trade Center (eavesdropping is one of my specialties).

BTC sudah di depan mata. Tepat di depan KFC, si Ibu di samping saya bilang, “Kiri!”

Angkot tidak berhenti karena tempat yang disediakan untuk menaik-turunkan pengunjung BTC memang 50 meter lagi. Bisa ngamuk mobil-mobil (or the drivers, to be exact) kalau supir angkot menurunkan penumpang di dekat jalur keluar-masuk BTC khusus kendaraan bermotor.

Saya pikir mereka bisa turun tepat di gerbang utama BTC, seperti hari-hari biasa. Ternyata jalur itu cukup padat oleh mobil. Beberapa polisi berdiri di pinggir jalan, mengatur arus mobil yang pasti masih akan terus bertambah karena Tahun Baru.

Si Ibu mulai ngedumel, “Kiri, kiri!”

“Depan, Bu!” supir angkot mencari-cari tempat pas untuk menurunkan penumpang tanpa perlu ditilang.

Dua puluh meter dari jalur khusus pengunjung itu, angkot mulai merapat ke sisi trotoar. Sayangnya langsung diusir polisi, mungkin karena belasan mobil di belakang angkot juga jadi mandeg.

Angkot berjalan lagi. Si Ibu sudah kehilangan rasa sabarnya (padahal belum sampai 100 meter dari titik ia ingin turun). “Kiri, kiri! Euh, ieu mah kudu naek angkot deui, atuh!” (“Wah, ini sih harus naik angkot lagi.”)

Gedung BTC masih belum terlewati (berarti masih cukup dekat kan?). Si Ibu makin misuh-misuh (padahal kedua anak dan suaminya tak ambil pusing). Saya yang biasanya menganggap norak tindakan mengomentari negatif orang yang tidak dikenal, akhirnya nggak tahan, “Di sana ada polisi, Bu.” kata saya, masih sedikit tersenyum.

Tapi Ibu yang menyebalkan itu malah mengulang kalimat terakhirnya tepat sebelum angkot berhenti sekitar 50 meter lewat dari gerbang BTC.

Dalam hati saya bilang, “Bodoh. Sok aja naik angkot lagi, paling-paling diturunin deket LAPAN. Trus naik angkot lagi aja, turun depan Topas. Trus naik angkot lagi, turun lagi deket LAPAN. Naik lagi, diturunin di Topas. Gitu aja terus, Bu, ampe taun 2005. Gak usah ke KFC, makan angin angkot aja.”

Yang membuat saya kesal, Ibu dan keluarganya itu hanya mesti berjalan kaki tak lebih dari 100-150 meter saja (buat yang tau daerah Pasteur, mereka turun di depan toko bangunan sebelah BTC, bahkan belum sampai hotel Topas). Kenapa mesti marah-marah? Sepanjang jalan nggak saya dengar mereka bicara soal dikejar waktu atau buru-buru. Sopir angkot pun bukannya tidak menggubris permintaan mereka untuk turun (situasi nggak memungkinkan, Bu! Ibu nggak pernah bawa mobil sendiri sih, nggak tau gimana stresnya kalau nyupir pas macet sementara mobil-mobil di depan main brenti sembarangan).

Toh mereka dalam kondisi sehat, gembira, tidak harus pakai kursi roda atau merangkak (masih untung bisa jalan kaki). Mungkin mereka nggak nonton Kejamnya Dunia episode keluarga dengan lima anak yang semuanya lumpuh. Anak-anak itu pasti nggak keberatan berjalan 150 meter, atau bahkan 2 km, untuk merasakan bagaimana nikmatnya bisa berdiri dan berpindah tepat menggunakan kedua kaki.

Lalu di mana daya juang kita? Padahal memberantas kemiskinan dan keterbelakangan sebagian besar rakyat Indonesia perlu upaya yang lebih memeras keringat daripada berjalan kaki 150 meter. Dan jangan andalkan pemerintah karena terbukti tidak ada negara maju yang ekonominya penuh campur tangan pemerintah.

Tuhan tidak akan mengubah nasih suatu kaum jika kaum itu tidak berusaha mengubahnya. Nggak ada kata “pemerintah” atau “rakyat” di situ. If you want it, then try hard to achieve it—don’t ask, or worse, demand, others to do it for you. Segala sesuatu harus dimulai dari yang kecil. Dari diri sendiri.

Kebiasaan manja seperti Ibu menyebalkan itu juga salah satu alasan kenapa masalah kemacetan tak kunjung teratasi, apapun yang sudah dicoba pemerintah. Kalau mental penduduk Indonesia masih seperti Ibu menyebalkan itu, masih ingin berhenti/menghentikan mobil di manapun, masih tak mau berpeluh sedikit saja, masih ngotot setiap kemauan terpenuhi segera, lebih baik pemerintah berhenti mengurus rakyat yang percuma saja diurus. Saya cuma berdoa semoga Ibu menyebalkan itu diingatkan Allah SWT untuk lebih bisa bersabar dan lebih bisa berjuang. Tak perlu seperti kisah Oshin, tapi cukuplah ia sadar kalau angkot tidak bisa berhenti atau diberhentikan di sembarang tempat.

Setiap pergi ke dan pulang dari kantor, saya selalu berjalan kaki (kecuali kalau kadang-kadang nebeng adik). Jaraknya tak kurang dari 200 meter. Belum lagi saat harus lembur, saya mesti menambah 800 meter karena tidak ada angkot dan saya terlalu pelit untuk naik ojek. Bahkan ketika saya memakai sepatu berhak lima sampai enam senti. Saya pikir, kalau masih bisa jalan kenapa tidak? Kaki terlatih plus bisa berhemat. Toh tidak setiap hari saya lembur.

Saya heran kenapa keluarga yang masih naik angkot dan berbaju biasa itu mengeluh begitu hebat hanya karena mesti berjalan 150 meter menuju KFC. Kalau mereka konglomerat terbiasa ber-BMW ke mana-mana—bahkan sampai depan ruangan kantornya—mungkin bisa dimaklumi.

Saya jadi teringat kisah pengusaha Tionghoa yang berhasil di Amerika. Mereka memulai toko rotinya dari nol. Selama menjalankan usahanya, walaupun punya uang, mereka hanya makan roti keras dan tidur di gudang. Mereka baru menjalani hidup yang lebih baik setelah toko roti itu berkembang jadi besar.

Kita? Indonesians? Kebalikannya. Jangankan berpikir hidup prihatin untuk sementara waktu, baru dapat beberapa puluh ribu sudah seperti punya beratus-ratus. Dapat beberapa ratus sudah seperti beberapa juta. Beli ini-itu. Makan ini-itu. “Ah, kan sedang ada uang.”

Lalu besok? Lusa? Ya kembali mengais-ngais.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home